Jan
18
2012
“Aku nikahnya kapaaaaan? sama siapaaaa?”
Dari berbagai soal yang jawabannya nggak pasti, yang dianggap paling nggak pasti oleh sebagian besar teman-teman cewek di Mapro adalah soal di atas.
Beberapa orang di antara kami menjerit-jerit ketika mendengar si Ani nikahannya besok, si Inu sudah tunangan sama si Ini, atau si Anu yang malah sudah punya anak ajah, mengingat giliran kami berbahagia entah kapan.
Ketidakpastian soal ingin menikah tapi nggak jelas siapa yang bisa diajak ini sebenarnya sudah dikasih alternatif oleh pak Jack, pakailah teknik random sampling, sarannya. Kita hanya harus bikin undangan, memastikan waktu dan tempat, tapi spasi untuk nama mempelai laki-laki cukup ditulis keterangan “isilah titik-titik di bawah ini”.
Kami ngakak, bahkan cara yang sebegitu maksanya masih menyuruh berkompromi dengan ketidakpastian. Bisa jadi orang yang nggak diharapkan malah bawa-bawa tinta emas, dan yang diimpikan belum merasa butuh menikah, hingga pada akhirnya titik-titik itu tetap menjadi titik-titik. Konyol. Harus belajar berbesar hati lagi teman-teman ini :))
no comments | tags: Menikah, Nunggak laporan nunggak rabi, Uncertainty | posted in Katarsis, Posting Irit
Jan
15
2012
Kadang saya menjadi orang yang gampang sekali lupa, dan belakangan tingkat keparahannya malah cukup mengesalkan. Saya sering ngalamin blocking kalo lagi ngobrol sama orang karna mendadak lupa tentang apa yang mau saya omongin. Saya juga bisa lupa di mana terakhir meletakkan kacamata, handphone, dan barang-barang penting lainnya. Saya beberapa kali salah sebut nama, puncaknya saya juga lalai pada satu tanggung jawab.
Kemana sebenarnya konsentrasi saya?
Saya mau bilang ini penyakit karena sifatnya sudah cukup merugikan. Maka, sedikit-sedikit saya belajar mengenali apa yang terjadi, agar bisa cepat menolong diri saya sendiri sehingga kelupaan ini nggak menjadi-jadi dan patologis. Continue reading
2 comments | tags: kecemasan, Lupa, Perilaku, Psikologi, Stres, Unfinished Job | posted in Curhat, Katarsis, Psikologi
Nop
25
2011
Kayaknya konsep pendidikan inklusi nggak tersosialisasikan dengan cukup baik. Banyak orang nggak paham apa itu sekolah inklusi. Kalaupun sudah pernah dengar, nggak jarang yang khawatir kalo anak-anak normal mereka dikumpulin satu kelas dengan anak-anak berkebutuhan khusus akan ngasih pengaruh jelek buat perkembangannya.
Padahal sebenarnya nggak gitu..
Saya pernah berbincang dengan seorang Ibu di kompleks saya tinggal. Beliau sharing tentang sekolah bagus buat anaknya yang kemarin baru masuk SD. Beliau nyebutin beberapa referensi sekolah yang saya juga tau. Apa yang saya amati tentang salah satu diantaranya adalah gedung sekolah yang lebih besar dan adik-adik yang berseragam lebih rapi dari anak SD pada umumnya. Continue reading
14 comments | tags: ABK, Psikologi, Sekolah Inklusi | posted in Katarsis, Psikologi
Nop
13
2011
Darmo, adek kos saya, salah satu sahabat deket saya, sudah pulang ke Balikpapan sebulanan lalu. S1 nya tamat. Tapi ada dialog kami di malam terakhir dia di Malang yang saya ingat persis. Waktu kami lewat di depan stand nya Holland Bakery, setelah makan-makan..
Darmo : Eeh, cantik itu puding mbak. Kayaknya enak deh, jadi pengen. Beli yuk
Aku : Iya, cantik. Tapi nggak sanggup makan lagi aku, Dar. Apalagi yang manis-manis
Darmo : Buat nanti?
Aku : Nggak
Darmo : Iya, Mbak, iyaa. Mencintai itu tak harus memiliki
Menolak padahal sebenarnya juga tergoda, itu adalah pilihan. Saya pikir siapapun boleh mutusin begitu, tergantung gimana kita menimbang resikonya. Saya hanya sedang kekenyangan, makanya nggak ingin makan puding lagi. Kalopun bisa dimakan nanti seperti yang dibilang Darmo, pudingnya nggak akan terasa enak karna kulkas di kosan bau ikan. Jadi, cepat-cepat saya menarik tangan Darmo biar menjauh dari stand itu, soalnya saya khawatir dia bakal maksa begini : “nggak papa wes, Mbak. dimakan sedikit-sedikit, ntar habis sendiri”.
6 comments | tags: Cinta tak sampai | posted in Curhat, Katarsis, Posting Irit